Para pemilik bisnis Hotel dan Restoran di Bali mulai angkat tangan

12 Oktober 2020 -Kondisi ekonomi Bali masih kritis hingga hari ini. Berbagai hal telah dicoba oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah untuk memulihkan kondisi perekonomian di Pulau Dewata, namun nampaknya dampak yang dirasakan masih belum terlalu signifikan bagi para pelaku usaha perhotelan. Bahkan restoran besar sekelas Mc Donald di Pantai Kuta tidak dapat bertahan selama pandemi global ini; perusahaan kecil berjuang untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah dan memberikan diskon besar untuk menarik pengunjung.


Tingkat okupansi hotel di Bali masih di bawah empat persen terhitung hingga Agustus 2020. "Okupansi hotel per Agustus hanya 3,68 persen dibanding tahun lalu 67 persen," ujar Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sideman. Update ini disampaikan melalui seminar online membahas Kesiapan Destinasi Pariwisata di Era Normal Baru pada Jumat, 9 Oktober 2020.


Lebih lanjut Bapak Sideman juga menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara cukup mendominasi pergerakan industri pariwisata di Bali; Ketika banyak negara memberlakukan pembatasan perjalanan, secara otomatis sektor ini akan terkena dampak parah akibat kebijakan yang diberlakukan oleh banyak negara lain diseluruh dunia. Dalam dua bulan, dari Agustus hingga September 2020, setidaknya 3.327 orang kehilangan pekerjaan

karena pandemi Covid-19. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Bali Ida Bagus Ngurah Arda menginformasikan, hingga akhir Agustus jumlah tenaga kerja yang diberhentikan sebanyak 76.940 orang, dan bisa dipastikan angka ini akan terus meningkat hingga semuanya kembali normal. Pemilik restoran dan hotel juga sedang berjuang mati-matian dengan situasi saat ini. Mereka perduli dengan keberlangsungan hidup para pegawainya, sementara di sisi lain, mereka tidak mampu lagi menanggung kerugian finansial, untuk biaya operasional, pegawai dan lainnya.


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Bali mengalami kerugian sebesar Rp. 9 triliun (lebih dari USD 600 juta) akibat wabah korona. “Kunjungan wisman mengalami penurunan hingga 99 persen. Akibatnya Bali mengalami kerugian Rp 9 triliun per bulan. Itu masalah besar yang harus dihadapi. Pekerja formal di-PHK serta pemandu wisata, buruh, nelayan, dan lain-lain, "kata Luhut saat meresmikan program Restorasi Terumbu Karang (Indonesia Coral Reef Garden / ICRG) 2020 lewat online, pada Rabu, 7 Oktober 2020. Untuk mencegah Bali semakin terpuruk, Luhut menginstruksikan kepada pemerintah daerah agar tidak hanya mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan utama. Harus ada sektor alternatif lain agar masyarakat Bali tetap bisa mendapatkan penghasilan di saat-saat sulit seperti sekarang.


Per 11 Oktober 2020, Indonesia melaporkan 4.497 infeksi baru virus korona, sehingga total menjadi 333.449, dengan 11.844 kematian dan 66.578 kasus aktif. Sedangkan di Bali terdapat 107 infeksi baru virus corona, total 10.135, dengan 321 kematian dan 1118 kasus aktif.