Nyepi di Bali

Ulasan singkat

Apa itu Nyepi
Kapan terjadinya
Penting diketahui
Ritual Nyepibr>Apa itu Ogoh-Ogoh

Nyepi 2017: 28 Maret
Nyepi 2018: 9 Maret

Nyepi - Unik bagi Dunia

Berbeda dengan beberapa budaya lainnya di dunia yang merayakan Tahun baru dengan kemeriahan dinamis dan bertabur cahaya, titik puncak perayaan 6 hari Tahun Baru Hindu Bali ditujukan untuk keheningan total.
Pada hari ke-3 seluruh pulau menjadi sunyi, tanpa jadwal penerbangan tiba atau berangkat dariBandara Ngurah Rai di Denpasar (DPS).
Hari ini disebut denganNyepi, bermakna "tetap hening" dan jatuh di hari setelah bulan mati pada masa semi ketika siang dan malam rata-rata memiliki panjang yang sama.
Hotel diminta untuk menutupi jendela, semua toko tutup! Tidak ada cahaya atau lilin dinyalakan di rumah-rumah, tidak ada mobil, motor dan orang lalu-lalang di jalan. Benar-benar pengalaman berbeda, tidak hanya bagi penduduk Bali tapi juga pengunjung dan wisatawan yang berada di Bali selama hari Nyepi

Hari Nyepi 2017 - Tahun Baru Hindu Bali

Sab, 25 Mar - Melasti | Perayaan Nyepi dimulai
Sen, 27 Mar - Malam Nyepi | Pawai Ogoh Ogoh di seluruh penjuru pulau dimulai sore hari, hingga larut malam.
Sel, 28 Mar - Hari Raya Nyepi - Hari Keheningan- suasana sunyi selama 24 jam dimulai jam 6 pagi, termasuk bandara!
Rab, 29 Mar - jam 6 pagi suasana kembali (hampir) normal, perayaan dan upacara di setiap pura. Meditasi dan refleksi.

simak informasi detail dalam "Uraian Festival Nyepi" berikut

Penting untuk tahu tentang Nyepi

Nyepi merupakan hari raya yang penting dan disucikan oleh umat Hindu di Bali dan umumnya menjadi libur nasional di Indonesia.

Arakan ogoh-ogoh yang terkenal, ketika para lelaki dewasa (dan anak-anak) mengarak patung berukuran besar di jalanan dibarengi dengan tabuhan dan musik gamelan berlangsung saat "Malam Nyepi", malam hari kedua setelah tahun Baru.

Wisatawan dan pengunjung dipersilakan untuk melihat arakan, mengambil foto dan menyaksikan tontonan unik ini. Beberapa ogoh-ogoh nantinya akan dibakar setelah diarak keliling.

Pada hari Nyepi (hari ke-3 dari perayaan 6 hari) seluruh pulau "mati". Di jalan tidak diijinkan semua jenis kendaraan lewat dan orang berjalan-jalan! Juga bandara ditutup. Semua pasar, toko baju dan segala jenis jual beli juga tutup. Bagi wisatawan dan penduduk.Restorantutup. Pantai ditutup. Pada dasarnya semua kegiatan selain di dalam rumah dilarang. Sementara di dalam rumah penduduk harus memastikan semua peralatan yang bersuara dikecilkanhingga suara minimal. Ketika hari mulai beranjak senja, semuatirai harus diturunkan menutup, dengan sekecil mungkin cahaya digunakan dimana seseorang memerlukannya. Jika pesawat melintasi Bali, maka pulau ini tidak akan terlihat. Untuk memastikan bahwa semua peraturan ditaati pengawas lingkungan dikenal dengan Pecalang (Polisi Nyepi) disebarkan di seluruh pulau.

Arakan Nyepi

Malam hari sebelum Nyepi penduduk Bali mengarak Ogoh Ogoh raksasa melewati jalanan Bali. Anak-anak yang masih kecil mengikuti jejak ayahnya. Bonekanya bisa setinggi kurang lebih 7 meter dan bisa jadi sangat berat. Dengan bantuan kisi bambu sekelompok lelaki menggotong ogoh ogoh diikuti oleh pemusik gamelan.

Nyepi & Penanggalan Hindu Bali

Awal dari tahun "Caka" - Tahun Baru Hindu Bali -- dirayakan oleh umat Hindu selama enam hari, dengan pawai ogoh-ogoh setelah matahari terbenam di hari kedua dan Nyepi, hari keheningan, jatuh di hari ketiga.

Nyepi adalah hari dimana umat Hindu Bali menetapkan dirinya untuk lebih dekat kepada Tuhan (Hyang Widi Wasa) melalui sembahyang, puasa dan meditasi dengan tambahan introspeksi diri, untuk mengevalusi nilai pribadi seperti cinta, kebenaran, kesabaran, kebaikan, dan kemurahan hati.

Perayaan keagamaan ini lebih besar dan meriah dalam satu tahun dibandingkan yang lain. Ada mitos bahwa setelah perayaan yang meriah dan gegap gempita selama hari 1 dan 2, pulau ini bersembunyi untuk melindungi diridari roh jahat, menipu mereka agar percaya bahwa Bali, terselimuti ketenangan dan sunyi, adalah pulau tak berpenghuni. Mitos ini berasal dari jaman legenda mengenai roh jahat, Dewa-dewa, pahlawan dan penyihir.

Sehari setelah Nyepi, dikenal sebagai Ngembak Geni, aktifitas kembali seperti sedia kala, keluarga dan teman berkumpul untuk saling memaafkan satu sama lain, dan untuk melakukan ritual ibadah bersama. Meski pun Nyepi merupakan perayaan Hindu, penduduk non-Hindu Bali juga menjalaninya, sesuai keadaan mereka sebagai sesama warga Bali.

Hari Nyepi seperti sebagian besar festival keagamaan dan hari suci Bali selalu ditandai berdasarkan penanggalan Bali (Caka atau Saka)
Satu tahun penuh dalam penanggalan Bali terdiri dari 12 sasih (bulan Bali). Tiap bulan (sasih) terdiri dari 35 hari yang biasanya adalah siklus penuh bulan baru (bulan mati atau Tilem) dan satu bulan purnama (Purnama)

Ritual Nyepi

Sebagai persiapan untuk merayakan Hari Nyepi, terdapat urutan ritual yang diselenggarakan di penjuru pulau.

Dengan demikian, Tahun Baru Hindu Bali dirayakan selama 6 hari dengan Nyepi—hari keheningan, menjadi salah satu aspeknya. Terdapat beberapa ritual yang menonjol:

Yang petama ialah Melasti (Melisa tau Mekiis) yang ditujukan untuk Sanghyang Widhi Wasa dan diadakan 3-4 hari sebelumnya untuk memperoleh air suci dari laut. Ritual ini dilakukan di Pura (Pemujaan Hindu Bali) dekat laut (Pura Segara) dan dimaknai sebagai penyucian benda-benda pusaka seperti Arca, Pratima, dan Pralingga yang dimiliki beberapa pura. Ritual yang sama diselenggarakan di Pantai Balekambang di pesisir selatan Malang, Jawa Timur, yaitu ritual Jalani Dhipuja.

Yang kedua ialah ritual Bhuta Yajna , yang diselenggarakan sehari sebelum Nyepi, untuk menyingkirkan elemen negative dan menciptakan keseimbangan antara Tuhan, Manusia dan Alam. Ritual ini juga dimaksudkan untuk kemenangan melawan Batara Kala melalui persembahan Pecaruan. Tawur Kesanga dan Caru merupakan ritual pengorbanan yang dilakukan sehari sebelum Hari Nyepi.
Tingkatan pengorbanan yang berbeda dilakukan di desa dan propinsi dengan mengorbankan hewan seperti ayam, bebek, babi atau bahkan sapi dan kerbau. Berbagai tanaman dan buah juga ditambahkan sebagai bagian dari persembahan. Desa Banjar Hindu Bali mulai membuat ogoh-ogoh sekitar 2 bulan sebelum Nyepi. Boneka raksasa yang mewakili kejahatan ini dibuat dari bambu dan kertas, menggambarkan elemen negative atau roh jahat. Saat matahari terbenam, antara jam 5-6 sore, ritual Pengrupukan dimulai (pawai ogoh ogoh). Pada saat ini masyarakat Hindu Bali berpawai di jalan mengarak ogoh-ogoh, dengan seru memainkan musik gabungan dari kulkul (lonceng bali tradisional), klakson, musik gamelan dan tetabuhan.
Gagasan dasarnya ialah untuk menakut-nakuti roh jahat dengan menimbulkan seramai mungkin suara yang dapat ditimbulkan tetabuhan.Meskipun ritual ini terjadi di seluruh pulau, tempat terbaik untuk menyaksikannya ialah di Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Sanur dan pantai lainnya yang terkenal. Tiap desa setidaknya membuat satu Ogoh-Ogoh yang istimewa dan membanggakan pembuatannya. Wilayah seperti Sanur, Kuta, Denpasar, Ubud biasanya mengadakan kontes bagi Ogoh-Ogoh terbaik. Di malam hari Ogoh-Ogoh akan dibakar dalam suatu upacara pada puncak Ngrupuk, dimana mereka dilahap api. Pembakaran ogoh-ogoh menggambarkan pemusnahan pengaruh jahat dalam kehidupan. Hal ini diikuti oleh tarian, minum dan pesta yang agak memabukkan, semuanya bertujuan mengusir roh jahat menjauh dari pulau Bali. Tidak semua ogoh-ogoh dibakar belakangan ini, jadi silakan tanyakan kepada penduduk apakah desanya masih mengikuti kebiasaan ini atau tidak.

Yang ketiga ialah Ritual Nyepi. Hari Nyepi!

Hari ini merupakan ditujukan sepenuhnya untuk refleksi diri segala sesuatu yang dapat mengganggu tujuan itu dilarang total. Dunia dalam dan dunia luar diharapkan bersih dan semua dimulai dari awal, dengan manusia menunjukkan pengendalian diri dan “kekuatan” alam secara simbolis, yang diwajibkan dalam pengendalian kepercayaan. Nyepi diharapkan sebagai keheningan total , berdasarkan empat aturan Catur Brata: Amati Geni tidak ada cahaya atau api, termasuk listrik. Larangan untuk memuaskan hasrat manusiawi. Amati Karya tidak ada bentuk pekerjaan fisik selain yang ditujukan untuk kegiatan pembersihan jiwa dan penyuciannya. Amati Lelungan tidak bergerak atau bepergian. Amati Lelanguan berpuasa dan tidak menghibur diri atau kesenangan umum.

Yang keempat ialah ritual Yoga/Brata dimulai dari jam 6 pagi di hari Nyepi dan berlangsung hingga jam 6 pagi keesokan harinya. Masyarakat Hindu Bali menghabiskan hari dengan bermeditasi.

Yang kelima, ialah ritual Ngembak Agni/Labuh Bratah yang dilakukan setelah hari Nyepi dan resmi menjadi Tahun Baru. Ngembak ialah hari dimana Catur Berata Penyepian usai dan masyarakat Hindu Bali saling berkunjung dengan keluarga, tetangga dan kerabat untuk saling memaafkan. Mereka juga menjalankan Dharma Canthi, kegiatan membaca Sloka, Kekidung dan Kekawi (naskah kuno yang mengandung lagu dan prosa). Pemuda Bali melakukan perayaan Omed-omedan atau Ritual Mencium untuk merayakan tahun baru.

Yang keenam ialah ritual Dharma Shanti yang dilakukan setelah ritual Nyepi selesai dan penutup dari perayaan suci selama seminggu penuh dalam penanggalan Hindu Bali.

Who is Batara Kala

For the Balinese, Batara Kala is the god of the Underworld and god of destruction. He is the son of Shiva (Batara Guru) and was originally sent to earth to punish humans for wrongdoings and evil habits. Balinese believe, that Batara Kala also "consumes" unlucky humans, so they are performing the Bhuta Yajna ritual to scare off unluckiness and evil. Further Balinese believe, that Batara Kala is the bringer of solar and lunar eclipses, because he is the enemy of the god of the sun and the god of the moon. Balinese however love the gods of sun and moon and perform sacrifices to ward Batara Kara off.

Tanggal hari Nyepi tahun mendatang

Tahun Tanggal Tahun Caka
2017 Selasa, 28 Maret 1939
2018 Rabu, 9 Maret 1940
2019 Jum'at,7 Maret 1941
2020 Rabu, 23 Maret 1942
2021 Minggu, 14 Maret 1943
2022 Sabtu, 3 Maret 1944
2023 Rabu, 22 Maret 1945
2024 Senin, 11 Maret 1946
2025 Sabtu, 29 Maret 1947
2026 Kamis, 19 Maret 1948
2027 Senin, 8 Maret 1949
2028 MInggu, 26 Maret 1950
2029 Kamis, 15 Maret 1951
2030 Selasa, 5 Maret 1952