Indonesia merencanakan kebijakan 'travel bubble' dengan keempat negara ini

15 Juni 2020 - Kementerian Luar Negeri dan Pariwisata Indonesia telah membahas beberapa poin penting tentang pembukaan kembali beberapa daerah tujuan wisata, termasuk Bali untuk sebuah program baru yang disebut 'travel bubble'. Istilah 'travel bubble' mengacu pada kesepakatan antara beberapa negara yang berhasil mencegah penyebaran virus Covid-19, serta memungkinkan satu sama lain untuk membuka perbatasan mereka dan melanjutkan kegiatan perjalanan atau wisata reguler di antara para negara anggota.

Ada empat negara yang ditargetkan pemerintah Indonesia untuk membangun 'travel bubble' antara lain: Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Negara-negara ini dinilai atas pencapaian mereka dalam menangani pandemi dan telah memasuki fase baru yang disebut periode normal-baru. Australia dan Cina dinilai sangat penting untuk bisnis pariwisata Indonesia, khususnya untuk Bali. Lebih dari dua juta wisatawan datang dari kedua negara tahun lalu ke pulau dewata, sementara Jepang dan Korea Selatan telah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Beberapa negara telah mengimplementasikan program ini seperti Lithuania, Estonia dan Latvia; mereka menamakan gagasan ini sebagai 'Baltic travel bubble'. Yunani, Jerman, Israel dan Siprus juga diharapkan berada di kelompok pertama untuk memungkinkan pengunjung dari negara-negara tetangga terdekat tanpa menjalani sesi karantina. Namun, bisa jadi beberapa orang akan dijadikan sample untuk beberapa pengujian acak.

Namun, para kritikus telah menyuarakan keprihatinan atas kebijakan pembukaan industri pariwisata yang dinilai prematur. Kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kepala Asosiasi Bali Tour and Travel Agencies (ASITA), I Ketut Ardana, menjelaskan bahwa industri pariwisata di pulau Bali dalam status waspada karena transmisi lokal virus corona masih dijumpai dibeberapa wilayah. Dia juga menyarankan pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam memutuskan apakah dalam waktu dekat nantinya akan membuka kembali tujuan pariwisata di Bali (2/6). "Jika kita mengambil keputusan yang salah, dampaknya bisa sangat buruk bagi Bali," katanya. "Itulah sebabnya kita harus berhati-hati [dalam mengambil keputusan] dan lebih baik sabar menunggu sampai situasinya membaik."

Bali telah mencatat 741 kasus positif Covid-19 pada Minggu (14/6) sore, dengan enam kematian dan 474 sembuh total. Pemerintah provinsi telah melaporkan peningkatan jumlah kasus transmisi lokal baru-baru ini, terutama di empat kabupaten di Badung, Denpasar, Klungkung dan Tabanan. Angka ini relatif kecil dibandingkan dengan 38.277 kasus dan 2.134 kematian di Indonesia.

I Ketut Ardana juga menambahkan, "Jika kurva transmisi virus mulai landai, kita mungkin mulai bersiap untuk dibuka kembali. Tetapi sekarang, transmisi lokal masih terjadi, dan tentu saja, itu adalah salah satu pertimbangan mendasar kami. Selain itu meningkatkan kepercayaan pengunjung terhadap keamanan Bali adalah kunci untuk pemulihan industri pariwisata".