Cuaca ekstrim di Bali

13 Oktober 2020 - Bali baru saja memasuki musim hujan sejak pertengahan September lalu. Jangan lupa untuk selalu membawa payung atau jas hujan jika Anda berencana pergi keluar hari ini. Hujan terkadang seringkali tiba-tiba datang, bahkan disaat langit tampak begitu cerah, seketika berubah mendung dalam beberapa menit saja. Beberapa daerah dataran tinggi seperti Bedugul, Kintamani, dan Tabanan Utara kemungkinan besar memiliki tingkat curah hujan tertinggi dan rawan longsor. Kondisi ombak di laut biasanya juga lebih tidak bersahabat dari hari-hari biasanya, jadi jika Anda memutuskan untuk terus berselancar atau menyelam scuba, harap berhati-hati dan selalu perhatikan sekeliling Anda. Selain itu jauhi tebing maupun daerah rawan longsor lainnya.


Kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan menjelaskan, Bali sedang memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) berada pada NINO 3.4: -0.72, yang berarti sedang terjadi peningkatan curah hujan harian yang signifikan di Bali. Selain itu, MJO saat ini berada di kuadran 5 yang mempengaruhi intensitas proses pembentukan awan hujan. "Kami mendesak masyarakat untuk tetap waspada karena cuaca buruk terus bisa jadi masih akan terus berlanjut," tambah Gunawan.


Pada Sabtu, 10 Oktober 2020, hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Bali sejak pagi hingga sore hari. Tak lama kemudian, beberapa kabupaten melaporkan beberapa bencana susulan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.


Seorang perempuan berusia 86 tahun ditemukan tewas tertimbun material longsor (10/10) di Desa Nongan, Karangasem. Di Bangli beberapa ruas jalan roboh akibat hujan deras pada Sabtu (10/10), kejadian ini disebabkan oleh kelebihan kapasitas pada sistem drainase jalan. Longsor tebing juga terjadi di Desa Yehembang Kangin; beberapa material masih menutupi badan jalan hingga Senin sore. Beberapa rumah di Banjar Tegak Gede juga ditemukan terkubur longsor. 


Desa Pengambengan di Jembrana melaporkan ratusan rumah warganya yang terendam banjir sejak Minggu (11/10) malam sekitar pukul 23.00 WITA, dan air masih tergenang hingga Senin (12/11) pagi. Warga bergotong royong memompa air dari lingkungannya dengan menggunakan pompa milik desa. Kedepannya, kepala desa akan bersinergi dengan pemerintah daerah agar menyetujui rencana pembangunan saluran drainase yang diarahkan ke kolam penahan di kawasan pelabuhan.


Sebuah pura laut di pantai Siyut-Gianyar juga ditemukan rusak akibat diterjang arus sungai yang deras. Tabanan mungkin adalah wilayah yang terkena dampak paling parah dari bencana alam ini. Puluhan rumah terendam banjir, beberapa sekolah tertimpa longsor dan fasilitas umum lainnya rusak berat, banyak juga jalan yang putus sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas di ruas jalan provinsi Denpasar-Gilimanuk.


Tidak hanya banjir dan longsor, Bali juga telah diperingatkan akan bahaya susulan beberapa bencana alam lain seperti gempa dan rawan tsunami. Titik gempa dan tsunami diperkirakan datang dari arah selatan pulau Jawa dan Bali, serta Nusa Tenggara.