Program pemulihan pariwisata Bali diharapkan akan dimulai pada akhir tahun 2020

22 April 2020 - Covid19 bisa jadi merupakan musibah terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah bisnis pariwisata di Bali. Dampak negatif yang disebabkan oleh pandemi ini jauh lebih mengerikan daripada tragedi lain seperti pemboman Bali dan letusan Gunung Agung. Ketika Bali mengalami tragedi pemboman pada tahun 2002 dan 2005, tingkat hunian hotel turun hingga 20 persen, sementara pada saat letusan Mt. Agung tingkat hunian semua akomodasi di Bali Selatan masih bertahan di 60 persen - karena zona merah (berbahaya) hanya 12 KM dari Gunung Agung. Tetapi saat ini, tingkat hunian hotel bahkan lebih rendah dari 10 persen, yang otomatis berimbas pada lebih dari satu juta orang yang bekerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan mereka. Ketua Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Badung IGA Rai Suryawijaya menyampaikan "Sejak April, hampir 96 persen hotel sudah tutup, karena tidak ada kunjungan wisatawan lagi, jumlahnya bahkan akan terus meningkat hingga 100 persen, karena Wisman yang ada akan dipanggil pulang ke Negaranya masing-masing".

Namun, hampir semua anggota Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia di Bali setuju dengan keputusan Pemerintah untuk fokus menangani COVID-19 terlebih dahulu. “Kita saat ini adalah masa krisis, yang perlu kita fokus adalah penyembuhan korban COVID-19. Sehingga masyarakat bisa tenang, baru kehidupan bisa berjalan dengan baik,”  imbuh IGA Rai Suryawijaya.

Pada saat ini Pemerintah Bali sedang melakukan yang terbaik untuk mengakomodasi kepulangan ribuan Pekerja Migran Bali, memantau protokol sesi karantina dan implementasi kebijakan lainnya. Menurut IGA Rai Suryawijaya, kembalinya Buruh Migran Bali harus ditangani dengan serius oleh pemerintah. Termasuk semua upaya pencegahan di masyarakat setempat. Seperti, dengan cara mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker ketika keluar rumah, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penerapan gaya hidup dan perilaku yang bersih dan sehat.  “Mudah-mudahan kita bisa selesaikan. Target yang paling optimis itu untuk di Bali, paling tidak kalau semua PMI sudah pulang kurang lebih 20 ribu orang, kita tangani dengan serius, perkiraan saya Agustus kita bisa declare Bali aman dan nyaman,” jelasnya.

Meskipun demikian, IGA Rai Suryawijaya juga menyinggung perihal program pemulihan untuk bisnis pariwisata Bali yang diharapkan akan dimulai pada akhir tahun. Dia berharap pariwisata Bali dapat dibuka kembali untuk para wisatawan saat liburan Natal dan tahun baru 2021. Selain itu, Presiden Indonesia Joko Widodo juga telah menyampaikan bahwa bisnis pariwisata pasti akan kembali normal lagi pada tahun 2021. Wisatawan kemungkinan besar akan memperpanjang waktu liburan mereka setelah bosan berada di rumah selama karantina pandemi Covid19.

Segera setelah pandemi berakhir, akan ada diskusi lebih lanjut tentang target pariwisata. Termasuk upaya mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Bali. Karena ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk memprediksi kapan bisnis pariwisata di Bali akan pulih. “Kita fokus dulu di mitigasi dan perawatan supaya masyarakat tidak bingung. Setelah pandemi berakhir, baru kita akan memikirkan itu,”  pungkas IGA Rai Suryawijaya.