Dampak COVID-19 pada Bisnis Pariwisata di Bali & Indonesia

9 April 2020 - Bisnis di berbagai sektor di seluruh dunia sedang menghadapi salah satu masa tersulit saat ini ditengah wabah pandemi Covid-19. Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bali kini sedang sibuk mengumpulkan data para pekerja yang terkena dampak di seluruh pulau Dewata. Sejauh ini, ada sekitar 17 ribu pekerja yang telah diberhentikan, sebagai akibat dari penutupan sementara untuk bisnis perhotelan di Bali (hotel, restoran, travel dan tempat wisata).

Ketua Asosiasi Hotel Bali (BHA) I Made Ricky Darmika Putra menjelaskan beberapa hal mengenai situasi terkini dalam wawancaranya dengan Antara "Saat ini, hampir semua hotel dan restoran di Bali ditutup sementara untuk satu hingga dua bulan ke depan, sekalian melihat situasi terkini,". Beberapa hotel masih beroperasi, tetapi dengan tingkat hunian yang sangat rendah bahkan di bawah 10 persen. Sementara itu, restoran yang masih beroperasi juga merevisi jam operasionalnya lebih pendek dan hanya menyediakan layanan delivery dan take-away, tanpa konsep dine-in (makan ditempat) mengikuti instruksi dari pemerintah pusat. Beliau juga menyarankan semua pemilik bisnis "Kami berharap semua General Manager dan pemilik hotel sebisanya menghindari PHK (pemutusan hubungan kerja). Sembari, tetap berdoa situasi ini segera pulih,"

Beberapa hotel dan restoran di Bali juga telah menerapkan beberapa kebijakan tambahan untuk menanggapi situasi sulit ini dengan penjadwalan karyawan untuk mengambil cuti, liburan bergilir dan pemotongan jam kerja mulai dari pertengahan Februari 2020 lalu, menunda semua rencana peningkatan produk, menunda semua Pembelian Permintaan (PR) dan Pesanan Pembelian (PO), menegosiasikan jangka waktu pembayaran yang lebih lama dengan vendor, dan menagih piutang yang belum terbayarkan.

Sementara itu di pulau-pulau lain di Indonesia, situasi yang sama juga dapat dijumpai. Sekretaris Jenderal PHRI (Asosiasi Hotel dan Restoran Terbesar di Indonesia) Maulana Yusran menjelaskan bahwa tingkat hunian hotel di keseluruhan negara ini telah turun menjadi 30 hingga 40 persen sejak wabah dimulai pada awal Januari, jauh di bawah rata-rata musim non-liburan yang biasa, yaitu 50 hingga 60 persen, berlanjut dengan beberapa hotel turun hingga 20 persen setelah Indonesia mengumumkan kasus pertamanya pada 2 Maret lalu. Selanjutnya, 1.139 hotel anggota, 286 restoran, tempat wisata, dan bisnis hiburan di seluruh Indonesia juga telah ditutup untuk sementara waktu.

Industri penerbangan juga mengalami penurunan drastis dalam jumlah penumpang sejak awal Januari, seperti yang dilaporkan oleh PT. ANGKASA PURA I (Badan Usaha Milik Negara) setidaknya ada 12.703 penerbangan (11.680 adalah penerbangan domestik dan 1.023 adalah penerbangan internasional) yang dibatalkan. Pembatalan ini mempengaruhi keberangkatan sekitar 1,67 juta penumpang pada Januari dan Februari 2020.