Bali menjadi tuan rumah acara penting PBB pada 2022

16 Oktober 2020 - Bali telah dipercaya menjadi tuan rumah beberapa event global selama beberapa tahun terakhir, dan kami sangat berbangga ketika mengetahui bahwa pertemuan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) akan diadakan di Nusa Dua-Bali pada tahun 2022 nanti. Presiden Indonesia, Joko Widodo telah mengukuhkan dan melimpahkan beberapa tugas pada para kabinetnya untuk mempersiapkan segala hal berkaitan dengan perhelatan akbar ini. Hal ini disampaikan kemarin 16 Oktober 2022 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat melalu rapat virtual terbatas.


GPDRR merupakan acara dua tahunan yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melalui United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) bertujuan untuk meninjau kemajuan berbagai pengetahuan, perkembangan, dan tren terkini dalam penanggulangan bencana internasional. Indonesia dianggap sebagai tempat yang tepat untuk menyelenggarakan acara tersebut karena kondisi geografisnya yang terletak di antara tiga lempeng tektonik dan juga berada di Sabuk Sirkum-Pasifik yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik.


Presiden juga menjelaskan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri lebih dari 5000 peserta dari 193 negara. “Ini akan menjadi event yang sangat besar dan akan dihadiri kurang lebih 5.000-7.000 peserta. Oleh karena itu harus dipersiapkan dengan matang, ”. Ia pun berpesan agar semua pihak terkait memanfaatkan kesempatan langka ini untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, khususnya pulau dewata-Bali.


Usai pertemuan terbatas, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyampaikan harapannya akan pandemi Covid-19 kiranya sepenuhnya sudah tuntas pada saat GPDRR digelar. Ia pun sependapat dengan arahan presiden untuk memanfaatkan momentum khusus ini guna memulihkan kondisi perekonomian di sektor pariwisata Bali yang sedang porak-poranda. “Sesuai arahan presiden, momentum ini akan kita gunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan nasional kita, termasuk untuk memperkenalkan metode unggulan yang telah dilakukan Indonesia selama ini dalam menangani masalah bencana. Baik bencana alam maupun non alam, ”imbuh Effendy.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo memaparkan setidaknya ada empat bencana yang paling mengancam Indonesia, yaitu geologi-vulkanologi, hidrometeorologi basah dan kering, dan bencana non alam seperti pandemi virus Corona. Doni juga menyebutkan akan berkoordinasi dengan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada forum GPDRR tahun 2022, terutama terkait studi kasus penanggulangan bencana di negara-negara yang telah berhasil menangani wabah Covid-19.


Otoritas Indonesia sedang menyiapkan anggaran untuk acara global yang digadang-gadang akan berlangsung selama lima hari ini dari 23 hingga 28 Mei 2022, yaitu sekitar US $ 5,9 juta (Rp.87,6 miliar). Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengusulkan jumlah ini melalui United Nations for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Anggaran ini nantinya khusus akan diperuntukan bagi persiapan tim PBB, biaya lainnya akan dibahas lebih lanjut.


Partisipasi Indonesia dalam forum ini dinilai sangat penting, karena negara kita ternyata masuk dalam daftar 35 negara di dunia dengan risiko bencana tertinggi oleh Bank Dunia. Pada tahun 2019 saja telah terjadi 2.564 bencana alam mulai dari banjir, gempa bumi, dan tanah longsor yang mengakibatkan 3.300 orang meninggal dunia, lebih dari 1.400 orang hilang, dan 21.000 orang luka-luka.